Info
|
Profil G+ Profil Facebook Profil twitter profil Youtube rss feed
Home » , » Kisah Seorang Pemuda yang Bertakwa Kepada ALLAH

Kisah Seorang Pemuda yang Bertakwa Kepada ALLAH

Suatu hari seorang pemuda berjalan di sebuah desa yang sangat asri, dihiasi oleh banyak pepohonan, udara yang penuh dengan kesejukan, dan sungai-sungai yang mengalir begitu jernihnya. Sebuah perjalanan biasanya kebanyakan orang membawa cukup perbekalan baik uang, atau makanan minuman dan sebagainya. Namun berbeda dengan pemuda ini, bukan karena lupa membawa perbekalan namun ketiadaanya yang membuat pemuda ini tidak membawa apa-apa.

Perjalanan yang cukup melelahkan membuat pemuda ini merasakan dahaga dan lapar, wajarlah karena memang pemuda ini seorang manusia biasa bukan malaikat. Singkat cerita pemuda ini melihat ada satu buah apel yang jatuh dari pohonnya, dengan semangat dan tanpa berfikir panjang, apakah buah itu kotor atau setengah kotor dia tak peduli dengan hal itu langsung saja pemuda ini mengejar dengan rasa riang dan bahagia. Ia pun mendapatkannya dengan mudah, dicuci lalu dimakannya setelah membaca basmalah, ia pun menghilangkan dahaga hausnya dengan meminum seteguk air sungai yang segar.

Setelah pemuda ini baru saja memakan setengah dari buah apel tersebut  lalu tiba-tiba terbesitlah ia, bahwa sesungguhnya darimanakah buah apel itu berasal? Orang yang bertakwa kepada Allah, jika digoda dengan syetan akan cepat mengingat Allah SWT.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”.(QS Al A’raf: 201).

Subhanallah. Lalu pemuda ini menelusuri pohon yang kira-kira dari manakah buah apel ini berasal, tidak mungkin buah apel ini datang begitu saja, pasti berasal dari sebuah pohon. Akhirnya pemuda ini menemukan pohon apel tersebut. Dengan rasa yang sangat takut, karena merasa memakan makanan yang bukan miliknya, seperti takutnya sahabat Abu Bakar radiyallahu an’hu takkala tahu makanan yang dimakan itu tidak halal, ia segera memasukkan jari ke mulutnya dan memuntahkan semua makananannya. (HR Bukhari).

Kemudian pemuda ini memberanikan diri untuk masuk ke salah satu rumah penduduk yang diduga pemilik pohon apel tersebut. Lalu dengan nada suara yang lembut, pemuda ini mengucapkan salam. Setelah berbicara panjang, apa yang ditanyakan oleh pemuda ini dibetulkan oleh pejaga rumah lalu ia pun mendatangi pemilik pohon apel itu. Pemuda ini kemudian meminta maaf kepada pemilik pohon karena sudah memakan buahnya tanpa seizinnya meskipun bukan maksud mengambilnya, namun karena keadaan spontan dan juga karena ditemukan di tanah.

Pemilik pohon ini, didalam hatinya merasa terkagum-kagum dengan perilaku yang dilakukan pemuda tersebut. Walaupun pemuda ini sudah meminta maaf, namun pemilik kebun tak semudah itu memaafkannya, dikarenakan pemilik kebun merasa ada sesuatu yang beda dengan pemuda ini. Tidak sembarang pemuda, yang ini sangat berbeda dengan pemuda-pemuda lain. Selanjutnya sang pemilik pohon mau memaafkan kesalahannya asalkan dengan satu syarat. Syaratnya adalah jika pemuda ini sanggup maka akan dimaafkan segela kesalahannya. Tanpa berfikir panjang pemuda ini mengiyakannya, karena takutnya kepada Allah SWT (QS An-Nisa: 29).

Namun ternyata syarat yang diajukan ini sangat mengejutkan, karena syaratnya adalah pemilik pohon menginginkan pemuda ini menikahi putrinya. Dengan rasa berat namun dilandasi keimanan yang kokoh, pemuda ini pun mengiyakan syarat tersebut. Selanjutnya pemilik pohon menceritakan singkat profil putrinya ini. Bahwasanya putrinya ini mempunyai mata yang buta, mulut bisu, telinga tuli dan lumpuh. Hal ini sempat menggegerkan kembali hati pemuda tersebut, namun dengan iman yang mantap ia pun mengiyakan itu semua. Lalu terjadilah akad pernikahan. Sesudah pernikahan usai, pemuda ini dipersilahkan masuk menemui istrinya.

Sewaktu pemuda ini hendak masuk ke kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena ia menyakini bahwa malaikat tentu tidak tuli dan bisu. Maka pemuda inipun mengucapkan salam, tak disangka putri yang ada dihadapannya itu menjawab salamnya. Bahkan ketika pemuda ini masuk dan menghampiri putri itu, dia pun mengulurkan tangannya. Pemuda ini terkejut karena putri yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Pemuda ini berkata dalam hatinya, bapak pemilik pohon itu berkata bahwa putrinya itu tuli dan bisu tetapi mengapa putrinya menyambut salamku? Berarti putri yang ada dihadapannya dapat mendengar dengan baik dan tidak bisu. Kemudian bapak itu juga mengatakan bahwa putrinya buta dan lumpuh tetapi mengapa putrinya menyambut kedatangannya dengan ramah dan mesra? Pemuda ini berpikir sejenak, mengapa bapaknya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan keadaan sebenarnya?

Setelah pemuda ini duduk di kamar putrinya itu, dia bertanya kepada putri itu, bapakmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta, mengapa demikian? Putri itu kemudian menjawab,"bapakku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah SWT".

Kemudian pemuda ini bertanya lagi, bapakmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa demikian? Putri itu menjawab,"Bapakku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah SWT."

Bapakmu juga menceritakan kepadaku bahwa kamu bisu dan lumpuh? Mengapa demikian? Putri itupun kembali menjawab, "Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah SWT saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah SWT." Subhanallah..

Pemuda ini pun merasa sangat bahagia, karena mendapatkan istri yang ternyata sangat salehah dan putri yang selalu memelihara kehormatan dirinya. Cerita bapak mertuanya ternyata semua itu hanyanlah kiasan semata, Alhamdulillah. Dengan bangganya pemuda ini, ia bercerita perihal tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya...Subhanallah, Dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap."

Kemudian pemuda saleh dan pemudi salehah itu hidup rukun dan bahagia, keluarga penuh dengan keberkahan, keluarga sakinah-mawaddah-warahmah (QS.Ar-Rum:21). tak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang sangat saleh, melahirkan generasi qurani.


Sumber : http://ramadan.detik.com/read/2013/07/05/165721/2294043/1420/melahirkan-generasi-qurani
Share this post :

Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi indodetik.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

0 Comments
Comments

Post a Comment

Next Back Home